ii. THE YEARNER

GUIDELINES


  about.   
this is an independent portrayal of an original character named remy.
if you have a particular prompt/plot in mind my messages are always open. feel free to reach out to write with me.  writer.   
i treat writing as a hobby that i do during any spare time that i have. i am operating at a low energy level hence why replies can be slow, but i always try to deliver everyone's response. i can write in both english ( preferred ) and bahasa.
  timezone.   
GMT +7
  disclaimer.   
This account is not affiliated with Martin Edwards Park from CORTIS (Bighit).
This is an original character portrayal borrowing his face as an 'actor'.

  storylines.   
i am pretty flexible with the themes in comes to storyline, and open to interacting with dead dove muses.
as long as you make the discussion in advance of what sort of direction you want our muses interaction to be.

ABOUT


  •   name    remy

  •   nickname    remy, EMY

  •   gender    male.

  •   age    19

  •   race/ethnicity   french- indonesian.

  •   birthdate    28 june 2007

  •   zodiac    cancer

  •   sexuality    gay (closeted)

  •   occupation    male model, selebgram

  •   affiliation    XYZ modelling agency

  •   location    JKT-BDG

  •   family    stevanus tjandra (deceased; suicide), amelié (deceased; heart attack)

  •   socioeconomic    lower class

  •   school    SMA santa theresia jakarta (graduate)

  •   Home    kamar kost | jalan sungai sambas vii/7, blok m, kebayoran, jakarta.


WHAT IS HE UP TO AT THE MOMENT?


Kesibukannya sebagai model belakangan ini membuat Remy sering mondar-mandir Jakarta-Bandung. Di era media sosial sekarang, popularitasnya melejit, dan banyak orang kini lebih mengenalnya dengan sebutan 'EMY'.Meskipun di media sosial ia terlihat glamor dari setiap jepretan foto dan ketenarannya, tetapi realita hidup Remy sangat jauh dari kemewahan yang diasumsikan semua orang dan sebenarnya masih lanjut bergelut dengan keterbatasan finansial.
Dari puluhan juta upahnya, ia sama sekali tidak memiliki tabungan karena tagihan hutang yang besar setiap bulannya.

APPEARANCE


  •   height    190.5cm

  •   weight    secret

  •   build    lean

  •   eyes    brown

  •   hair    light blonde.

  •   languages    english, bahasa indonesia, some french.

HOW IT ALL BEGAN


  TW: SELF-HARM, SUICIDE, DEATH.   Semua berawal dari pertemuan Ayah dan Ibu saat mereka berlibur di Bali—sebuah kisah romansa menggebu yang berujung ke pelaminan. Aku, Remy, lahir sebagai buah hati mereka; Ibuku bilang kalau aku dulu cerdas, gemar bicara, dan penuh percaya diri, namun seperti Ayah, aku keras kepala.Apa yang kumau, harus kudapat.Jika tidak, aku akan merengek dan menangis. Aku jadi teringat dulu, betapa aku bersikeras untuk harus mengenakan setelan baju Upin Ipin favoritku setiap hari Sabtu, dan ketika aku mengharamkan sepatu bertali karena pernah jatuh tersungkur hingga kehilangan dua gigi susuku serta seluruh wajahku tercium aspal hingga merah merona dan perih karena kelupas kulit."Emy, you can't cry all the time, bagaimana jika nanti kami tinggal pergi?"
"Tidak boleh. Aku juga ikut pergi kalau begitu."
Aku sering dipanggil 'anak Mami' oleh semua orang, karena aku lengket kepada Ibu seperti perangko. Aku sayang Ibu, sebab Ibu selalu memanjakanku dan tidak pernah memukulku. Sebaliknya dengan Ayah. Seingatku, Ayah kepribadiannya sangat keras dan menakutkan, juga selalu mengomel dan menuduh Ibu sebagai alasan kenapa aku berujung tumbuh menjadi anak yang murah air mata.Cuaca hidup kami mulai terombang-ambing saat aku menginjak bangku SMP.Usaha percetakan Ayah bangkrut, lalu disusul oleh investasi bodong dengan nominal yang tidak main-main. Cicilan rumah pun belum lunas, sehingga Ibu harus menjual semua perhiasan, dan kami kehilangan mobil Honda Odyssey yang kusayang.Aku tidak begitu ingat kapan tepatnya saat aku mulai merintis karier menjadi model. Mungkin dulu, ketika aku mabuk oleh rasa percaya diri saat mendengar bahwa perempuan di sekolahku kagum karena tinggi badanku yang menjulang diantara teman-teman lelaki sebayaku. Kata mereka aku blasteran, tampan juga manis. Jadi suatu saat aku memaksa ibuku untuk menemaniku audisi untuk menjadi model remaja.Aku ingat persis, bahwa saat itu aku memakai kaus putih dan jaket denim. Kupikir aku adalah remaja terkeren di ruang tunggu audisi itu.Mengingatnya membuat pipiku terasa hangat, rasanya aku ingin teriak sedikit karena malu.Lahir dari dua ras yang berbeda sungguh merupakan sebuah keberuntungan bagiku, mungkin bisa disebut anugerah juga. Karena semenjak lolos audisi dan melakukan pemotretan pertama, semua seperti gerimis hujan di siang hari dan membuat hawa terasa sedikit sejuk.Dimulai dari lirikan brand-brand kecil di Instagram, kini tawaran mulai datang dari nama-nama yang cukup besar. Ibu juga merangkap menjadi manajerku; Ibu menyaring tawaran job yang diberikan. Tapi tidak semua kesempatan kami ambil, karena bagaimanapun, aku masih ada kesibukan di sekolah.Langit mulai mendung lagi pada malam hari sebelum aku menginjak bangku SMA.Dari balik pintu kamar tidurku, sembari mengenakan headphone dengan volume maksimal, aku mendengar keributan yang menggelegar di dalam rumah kecilku. Ternyata, Ayah telah menggadaikan surat rumah dan juga terjerat hutang rentenir karena diam-diam ia menyelam pada judi online. Sungguh ironis; karena kemarin aku baru saja menertawakan orang-orang bodoh yang terjerat judol, tanpa menyadari bahwa orang bodoh yang kumaksud adalah darah dagingku sendiri.Lalu, datanglah hujan dalam kisah asmaraku. Sekarang ada singkatannya : KCJ.Patah hati pertamaku, aku rasakan saat liburan ke Puncak bersama teman-teman sekelas. Sebelumnya aku telah sadar bahwa aku menyukai sahabat laki-lakiku sendiri. Dan itu menjadi sebuah perasaan yang hanya bisa kupendam karena rasa takut oleh orientasi ku menyimpang.Rasa yang bersemayam di balik hatiku buyar saat aku menyaksikan sahabatku mengecup bibir gebetannya saat bermain Truth-or-Dare. Aku terdiam dikala semua bersorak dan meledek.Sepertinya, itu kali pertama aku berhasil menahan diri untuk tidak menangis di tempat. Tetapi sepulang dari Puncak, air mataku terjatuh ketika menerima pesan SMS bahwa mereka sebenarnya telah backstreet dari sebulan yang lalu.Saat itu aku merasa hidupku sedang diguyur hujan besar, tanpa tahu bahwa petir akan menyambar.Hari Minggu pagi aku mendengar suara ribut di depan kontrakan, dan aku keluar kamar dengan jantung yang berdebar gelisah. Lalu, terungkaplah kenyataan bahwa Ayah kembali berhutang karena— lagi lagi, judi— dan lalai membayar hingga bunga berbunga, dan melipat dari ratusan menjadi satu setengah miliar rupiah. Aku yang biasanya hanya bisa diam, akhirnya meneriakkan kata-kata yang biasa Ibu ucapkan:"Ayah sudah gila, ya?!”Kakiku lemas, rasanya ingin merosot ke lantai, tetapi aku harus berdiri kuat untuk bisa menangkap tubuh Ibu yang nyaris ambruk karena hampir kehilangan kesadaran. Ayah memohon minta maaf kepada lintah darat yang menagih hutangnya, dan minta ampun kepada Ibu yang sedan g mengucap sumpah serapah dengan bahasa Perancis kepada Ayah.Mungkin aku dalam fase denial. Tetapi aku berharap bahwa semua akhirnya akan menjadi baik-baik saja —dan bahwa setelah semua guncangan ini, hidup kami akan melunak dan Ayah akan berhenti berulah...Tetapi angin topan itu akhirnya datang juga, Ia mengamuk dan merenggut semua yang kupunya.Ibu telah pergi selamanya.Ibu terkena serangan jantungyang merenggut nyawanya tiga hari setelah Ayah melarikan diri dari rumah. Ayah, si pengecut brengsek yang meninggalkan tumpukan hutang atas nama Ibu. Dokter berkata kalau itu karena campuran stress, pola makan dan riwayat tekanan darah tinggi ibu. Tetapi di mataku, pelakunya hanya satu:Ayah.Ayahlah yang membunuh Ibu. Dan sekarang, membiarkan aku sendirian menghadapi segunung hutang yang kini telah di wariskan kepadaku.Aku tidak lanjut kuliah.Sisa uang dari hasil kerja kerasku sebagai model kuhabiskan untuk biaya pemakaman Ibu karena aku ingin memberikan perpisahan yang layak baginya. Ayah tidak menunjukkan batang hidungnya pada pemakaman Ibu ketika aku memberi kabar kepadanya lewat pesan, ia hanya membaca pesanku saja. Aku semakin benci dengan bedebah sialan itu.Selama prosesi melayat dan pemakaman, aku masih bisa berpura-pura tegar, masih bisa berfungsi layaknya manusia normal. Tetapi, ketika aku disambut oleh sepi sunyi rumah kontrakan yang kini hanya menyisakan diriku sendiri, sebatang kara, tangisku pecah dan tersedu.Aku jatuh tersungkur lagi, dan sekarang jauh lebih menyakitkan daripada ketika kecil sewaktu aku kehilangan kedua gigi susu ku. Kali ini aku kehilangan kedua orangtua ku sekaligus. Aku ditinggalkan sendirian dengan lilitan hutang yang mencekik leherku dan masa depan yang kelam.Apa sebaiknya aku lekas menyusul ibu juga? Aku sendirian sekarang, tidak ada alasan agar aku harus tetap hidup. Tidak ada yang siapapun disamping ku, ataupun motivasi untuk berjalan hidup.Untuk apa aku tetap bertahan? Tidak ada lagi suara Ibu yang menyemangatiku, tidak ada lagi alasan bagiku untuk menjalani hari. Kontrakan ini terlalu sunyi dan kosong, tak akan ada lagi suara lembut Ibu yang menyambutku pulang, suara senandungnya ataupun ocehannya dalam bahasa Perancis ketika aku berulah nakal.Aku menyeret langkahku menuju dapur yang gelap. Di atas meja, aku melihat sebilah pisau daging baru yang berkilat tajam. Aku ingat betapa bahagianya Ibu kemarin saat membelinya, ia memamerkannya padaku karena pisau lama kami sudah tumpul dan sulit dipakai. Jemariku yang gemetar perlahan meraih gagangnya.Aku menempelkan mata pisau itu di pergelangan tanganku. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal: menyusul Ibu. Bagaimana jika aku akhiri semua masalah hutang dan kesedihan ini dalam satu goresan dalam?Namun, saat logam itu mulai menyayat kulit, tanganku terasa tertahan oleh ketakutan yang menjalar. Aku memaki diriku sendiri. Berulang kali aku mencoba menggoreskan pisau itu pada kulitku tetapi tanganku bergetar hebat. Aku tidak sadar bahwa aku mulai keringat dingin.Lalu aku menangis menjadi, pada kesekian kalinya.Pengecut. Bahkan untuk mati pun aku tidak punya cukup keberanian.Pisau itu hanya sanggup menggores permukaan kulitku, tidak cukup dalam untuk memutus nadi, namun tetap mengeluarkan darah merembes keluar dari hasil guratan ku.Tetes demi tetes darah muncul perlahan dari barisan goresan itu, mengalir pelan di sepanjang lenganku sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Rasa sakit itu merambat padaku dengan perih yang menyengat.Mungkin karena luka itu nyata dan bisa kulihat. Pada saat itu, pedih yang kuukir pada diriku sendiri berhasil mengalihkan perhatianku dari luka batin yang menganga lebar di dalam dada.Di dalam sensasi sakit pada pergelangan tanganku, aku malah menemukan sekelibat ketenangan.Aneh, memang.Mungkin ganjil bagi kalian. Tetapi pada saat itu, rasa sakit sungguhan jauh terasa lebih baik ketimbang rasa nyelekit pada jantungku.